Yogyakarta – Sejarah panjang Kerajaan Mataram Islam yang pernah menjadi simbol kejayaan politik dan budaya Jawa berujung pada perpecahan besar di abad ke-18. Akibat intrik internal dan politik divide et impera yang dimainkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kerajaan ini terbelah menjadi empat entitas utama: Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, dan Kadipaten Mangkunegaran.
Perpecahan ini tidak hanya mengubah lanskap politik Jawa, tetapi juga membentuk dasar kebudayaan dan sistem pemerintahan tradisional yang masih terasa hingga kini di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Surakarta (Solo).
Perjanjian Giyanti: Awal Perpecahan Mataram Islam
Mengutip situs resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, keruntuhan Mataram Islam berawal dari konflik internal antara Paku Buwono III, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa). Perseteruan ini kemudian dimanfaatkan VOC untuk melemahkan kekuasaan raja-raja Jawa melalui politik adu domba.
Puncak konflik tersebut terjadi ketika ditandatangani Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini secara resmi membelah Mataram Islam menjadi dua kerajaan besar:
- Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Keraton Kasultanan Ngayogyakarta - Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dipimpin oleh Paku Buwono III, penerus dinasti utama Mataram.

Keraton Kasunanan Surakarta
Perjanjian ini menjadi tonggak berdirinya dua pusat kekuasaan Jawa, masing-masing dengan gaya kepemimpinan, arsitektur, dan tradisi yang khas, meski keduanya masih berbagi akar budaya Mataram.
Lahirnya Dua Kadipaten: Pakualaman dan Mangkunegaran
Setelah pecahnya Mataram menjadi dua, muncul dua kadipaten baru sebagai hasil kompromi politik dan penghargaan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh.
- Kadipaten Pakualaman lahir dari tubuh Kasultanan Ngayogyakarta pada 17 Maret 1813, ketika pemerintahan kolonial Inggris di bawah Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles memberikan kekuasaan kepada Pangeran Notokusumo dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Paku Alam I. Kadipaten ini berdiri di atas sebagian tanah milik Kasultanan dan menjadi simbol loyalitas terhadap kekuasaan Inggris.

Kadipaten Pakualaman Yogyakarta - Kadipaten Mangkunegaran berdiri pada 17 Maret 1757 lewat Perjanjian Salatiga, yang mengakhiri konflik antara Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) dan Kasunanan Surakarta. Sebagian wilayah Surakarta diserahkan untuk membentuk kekuasaan baru di bawah Mangkunegaran.

Kadipaten Mangkunegaran Surakarta
Dua kadipaten ini menambah kompleksitas peta politik Jawa Tengah dan Yogyakarta, sekaligus menegaskan bahwa pembagian kekuasaan kala itu bukan sekadar urusan politik, tetapi juga simbol kehormatan bangsawan.
Jejak Empat Kerajaan di Masa Kini
Masing-masing entitas warisan Mataram Islam mengembangkan identitas budaya dan politik yang berbeda, meskipun berakar dari tradisi yang sama.
- Kasultanan Ngayogyakarta berlokasi di Jalan Rotowijayan, Kota Yogyakarta, dengan tata ruang khas Catur Gatra Tunggal — integrasi antara Keraton, Alun-Alun, Masjid Gedhe, dan Pasar Gedhe sebagai pusat kehidupan masyarakat.
- Kasunanan Surakarta berada di kawasan Baluwarti, Solo, di lokasi bekas Desa Sala, yang menjadi pusat pemerintahan setelah perpindahan ibu kota Mataram.
- Kadipaten Pakualaman dan Kadipaten Mangkunegaran kini dikenal sebagai simbol aristokrasi budaya yang masih memainkan peran dalam pelestarian adat dan seni Jawa.
Pasca kemerdekaan Indonesia, Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung menjadi bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sementara Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran sempat mendapat status istimewa, namun dicabut pada Juli 1946 dan kini berstatus sebagai wilayah administratif biasa di bawah Kota Surakarta.
Warisan Budaya dan Identitas Jawa
Empat kerajaan ini bukan sekadar simbol politik, tetapi juga pusat pengembangan budaya Jawa, mulai dari bahasa, tari, gamelan, arsitektur, hingga batik. Batik Yogyakarta dikenal dengan warna-warna tegas seperti hitam, putih, dan cokelat soga, mencerminkan filosofi spiritual, sedangkan batik Surakarta cenderung halus dan elegan, melambangkan ketenangan dan kebijaksanaan.
Hingga kini, warisan empat serangkai Mataram Islam tetap hidup — bukan hanya dalam wujud fisik keraton, tetapi juga dalam jiwa masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi tradisi, harmoni, dan keluhuran budaya. (Yud)
