Yogyakarta – Semarak dunia flora kembali terasa di Yogyakarta. Festival Anggrek Vanda Tricolor (FAVT) ke-8 resmi dibuka dan tahun ini hadir lebih panjang, lebih luas, dan lebih edukatif. Berlangsung di Pendopo dan Alun-Alun Ambarukmo, festival digelar mulai 18 hingga 23 November 2025, menghadirkan berbagai rangkaian acara yang menonjolkan kekayaan anggrek khas Merapi.
Dengan mengusung tema “Pesona Anggrek Tricolor Warisan Hutan Merapi”, FAVT 8 ingin memperkuat perhatian publik terhadap kekayaan flora endemik di kawasan gunung berapi paling aktif di Indonesia tersebut.
Durasi Lebih Lama, Ruang Partisipasi Lebih Luas
Ketua Panitia, Endah Sri Widiastuti, menjelaskan bahwa tahun ini festival digelar selama enam hari—lebih lama dibandingkan tahun lalu yang hanya berlangsung empat hari.
“Tahun lalu hanya empat hari, sekarang enam hari. Kami ingin memberi kesempatan lebih luas bagi peserta bazar dari luar DIY, dan masyarakat juga bisa mendapatkan lebih banyak pilihan serta pengalaman untuk meningkatkan pengetahuan peranggrekan,” ujarnya.
Perpanjangan waktu festival sejalan dengan semakin kayanya agenda edukasi: mulai dari workshop, talkshow, hingga hiburan harian yang dirancang untuk merangkul penghobi, pelaku usaha, akademisi, dan pengunjung umum.
Empat Kontes Bergengsi Perebutkan Piala Lembaga Ternama
Salah satu agenda yang paling ditunggu adalah kontes anggrek, yang memperebutkan empat piala bergengsi:
- Kontes Anggrek Tricolor — Piala Gubernur DIY
- Kontes Anggrek Spesies — Piala PAI DPP Jakarta
- Kategori Best of Show — Piala Rektor UGM
- Kontes Anggrek Hibrida — Piala PAI DPD DIY
Penjurian akan dilakukan oleh sepuluh juri profesional yang berasal dari berbagai kota, seperti Jakarta, Tangerang, Malang, Salatiga, Semarang, dan Bandung.
Tahun ini, festival diikuti oleh 20 nurseri anggrek dan tanaman hias, 54 pelaku UMKM kuliner, kerajinan, dan fashion, serta empat stan instansi pemerintah. Peserta juga datang dari berbagai daerah di luar DIY, termasuk Semarang, Wonosobo, dan Karanganyar.
Klinik Anggrek dan Edukasi Gratis untuk Pengunjung
Untuk memenuhi kebutuhan informasi para pecinta tanaman, panitia menghadirkan Klinik Anggrek, hasil kerja sama dengan PAI DPP DIY dan Yayasan Pelestarian Anggrek Merapi. Klinik ini buka setiap hari dengan dua sesi berbeda:
- 18–21 November: 15.30–17.30
- 22–23 November: 10.00–12.00
Inisiator festival, Sri Suprih Lestari, menekankan pentingnya edukasi mengenai identitas anggrek Vanda Tricolor var. suavis yang merupakan flora asli Merapi.
“Anggrek punya nilai lebih dari sekadar ekonomi. Ia juga memberi manfaat hiburan, terapi, dan mempererat hubungan sosial,” ujar Sri.
Beragam workshop turut disajikan, mulai dari aklimatisasi, pencegahan hama, botanical painting, orchidama, hibridisasi, registrasi anggrek, hingga membuat terakota sebagai media tanam. Festival juga menghadirkan tokoh anggrek nasional, Dedek Setia Santoso (Owner DOrchid, Malang), serta sesi bedah buku Merawat Anggrek dengan Hati dan Logika.
Talkshow tematik pun digelar untuk membahas mekanisme penjurian, peluang usaha, dan pengembangan anggrek sebagai potensi wisata.
Penguatan Ekosistem Pecinta Anggrek
Dengan rangkaian acara yang lebih panjang dan padat, FAVT 8 tidak hanya menjadi ajang pameran dan kontes, tetapi juga ruang edukasi dan kolaborasi. Festival ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem penghobi dan pelaku industri anggrek di Yogyakarta dan sekitarnya, serta mengangkat kembali pesona flora khas lereng Merapi yang menjadi kekayaan hayati penting bagi Indonesia. (Yud)
