Sabtu sore saya tidak ke mana-mana. Di rumah saja. Udara sejuk. Terdengar agak berisik kedai kopi milik orang Madura di belakang rumah. Saya duduk di meja makan darurat di dapur. Sejak kami menikah, dapur adalah zona nyaman saya, wilayah kekuasaan yang penuh aroma dan ketenangan.
Pandangan saya tertuju pada sebongkah oleh-oleh dari teman—buah sukun. Buah yang tak pernah gagal membangkitkan rasa syukur. Saya segera mengambil pisau. Mengupas, memotong, lalu menggorengnya. Syuuurr… Suara desis sukun yang bertemu minyak panas adalah melodi pembuka hari yang sempurna.
Saat menunggu irisan-irisan itu berubah emas, pikiran saya melayang jauh. Saya selalu yakin pada satu hal: Selama masih ada sukun, dunia tak akan kiamat pangan. Buah ini… digoreng enak, dikukus pun dahsyat.
Saya teringat kisah historisnya, kisah di mana buah yang begitu mudah ditemukan di Kepulauan Nusantara ini pernah menjadi fantasi besar di mata orang Eropa.
Jauh sebelum dicari-cari dunia, sukun telah menjadi bahan makanan andalan di sini. Relief di Candi Borobudur bahkan telah mengabadikan keberadaan sukun sebagai bagian penting dari kehidupan penduduk Nusantara.
Namun, sejarah mencatat interaksi pertama orang Eropa terjadi pada abad ke-17. Penjelajah Inggris, William Dampier, adalah yang pertama menyaksikan buah unik tanpa biji ini saat singgah di Guam pada tahun 1686. Karena teksturnya yang mirip ketika dipanggang, Dampier memberinya nama yang kini mendunia: “breadfruit” (buah roti).
Maka, kami menamakannya sebagai breadfruit,” tulis William Dampier dalam A New Voyage Round the World (1697).
Dampier, diikuti oleh naturalis Belanda Rumphius (dalam Herbarium Amboinese 1741), meyakini bahwa breadfruit adalah buah ajaib, lezat, dan berpotensi tinggi untuk mengatasi kelaparan serta penyakit.
Imaginasi tentang buah berkhasiat tinggi ini mencapai puncaknya hingga akhirnya cita-cita membawanya ke koloni terwujud. Pada 1775, James Cook dan ahli botani Joseph Banks meyakinkan Raja Inggris, George III, untuk menanam sukun sebagai bahan makanan bagi para budak di koloni Inggris. Setelah dibawa dan ditanam di Karibia, Amerika Tengah, sukun pun menyebar ke seluruh koloni, dan perlahan menjadi konsumsi global.
Solusi ‘Kiamat Pangan’ Dunia
Keyakinan kuno tentang nutrisi sukun ternyata dibenarkan oleh sains modern. Departemen Kesehatan Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa sukun kaya akan Vitamin C, potasium, magnesium, tinggi serat, serta rendah lemak dan gula.
Bahkan, berbagai riset modern kini menyebut sukun sebagai superfood dan solusi potensial untuk mengatasi ‘kiamat’ pangan global yang dipicu oleh krisis iklim. Alasannya kuat: sukun adalah tanaman bernutrisi tinggi, cepat berbuah, mudah perawatannya, tahan cuaca ekstrem, dan sangat adaptif.
Saya angkat piring yang berisi sukun goreng. Crispy di luar, fluffy di dalam. Sempurna. Sambil menyeruput kopi, saya tersenyum. Bangga rasanya, bahwa “buah yang lebih unggul dibanding buah-buahan lain” itu, yang dulunya hanya imajinasi bagi orang Eropa, kini adalah kudapan sederhana dan penyelamat krisis pangan, yang lahir dari rahim bumi Nusantara, dan tersaji hangat di meja makan darurat saya Malam Minggu ini. (*)
