Jakarta – Dunia kebudayaan dan intelektual Indonesia tengah berduka. Romo Mudji Sutrisno, S.J., sosok rohaniwan Katolik sekaligus budayawan terkemuka, dikabarkan meninggal dunia pada usia 71 tahun di RS Carolus Jakarta, Minggu 28 Desember 2025 jam 20.43. Kepergiannya meninggalkan celah besar dalam dialog kebudayaan dan nilai-nilai kemanusiaan di tanah air.
Dikenal sebagai sosok yang rendah hati namun tajam dalam pemikiran, Romo Mudji bukan sekadar seorang imam Jesuit, melainkan juga seorang pemikir yang mendedikasikan hidupnya untuk mempertemukan seni, agama, dan filsafat.
Profil dan Jejak Langkah Romo Mudji
Lahir di Solo pada 12 Agustus 1954, perjalanan hidup Romo Mudji adalah perjalanan pencarian makna. Berikut adalah poin-poin penting dalam dedikasi beliau:
Pendidikan dan Akademisi: Beliau merupakan Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Pemikiran-pemikirannya sering menjadi rujukan dalam memahami estetika dan filsafat kebudayaan.
Karya Sastra dan Seni: Selain mengajar, Romo Mudji adalah seorang penulis produktif dan pelukis sketsa. Karya-karyanya sering kali merekam kegelisahan sosial dan keindahan spiritualitas dalam garis-garis sederhana namun bermakna dalam.
Suara Kemanusiaan: Beliau dikenal aktif dalam berbagai dialog antariman dan gerakan warga yang menyuarakan etika dalam berpolitik serta berbangsa.
Sosok yang Menjembatani Perbedaan
Bagi kolega dan mahasiswanya, Romo Mudji dikenal sebagai sosok yang mampu menyederhanakan konsep filsafat yang berat menjadi obrolan yang membumi. Beliau percaya bahwa kebudayaan adalah napas dari keberagaman Indonesia.
“Seni dan budaya adalah sarana untuk memperhalus budi pekerti manusia.” – Sebuah semangat yang selalu beliau bawa dalam setiap diskusi dan tulisan-tulisannya.
Wafatnya Romo Mudji merupakan kehilangan besar bagi bangsa yang sedang terus belajar merawat keberagaman. Selamat jalan, Romo. Karya dan sketsa pemikiranmu akan tetap abadi dalam sejarah kebudayaan Indonesia. (Yud)
