Tanpa Kembang Api, Ribuan Warga Padati Titik Nol Kilometer Yogyakarta Sambut Tahun Baru 2026

Yogyakarta – Jarum jam menunjukkan pukul 23.45 WIB saat kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta berubah menjadi lautan manusia. Meskipun gerimis tipis sempat membasahi aspal sejak sore hari, antusiasme ribuan warga dan wisatawan tidak surut untuk menyongsong detik-detik awal tahun 2026 di jantung Kota Gudeg ini.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, langit Yogyakarta malam ini tampak lebih tenang. Pemerintah Kota Yogyakarta secara resmi mengeluarkan Surat Edaran yang melarang pesta kembang api sebagai bentuk solidaritas dan empati terhadap bencana alam yang melanda wilayah Sumatra. Di Malioboro, suasana justru terasa lebih intim. Alunan musik jalanan dari kelompok pengamen angklung yang membawakan lagu “Yogyakarta” milik Kla Project menjadi latar suara yang syahdu bagi para pejalan kaki.

“Tahun ini terasa lebih bermakna. Tidak ada bising ledakan kembang api, tapi kebersamaannya lebih terasa. Kami di sini juga sambil mendoakan saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Rudi, seorang wisatawan asal Mojokerto yang ditemui Tugu Yogyakarta.

Pusat Keramaian dan Rekayasa Lalu Lintas

Sejak pukul 18.00 WIB, Jalan Malioboro telah disterilkan dari kendaraan bermotor. Kawasan Tugu Pal Putih yang biasanya menjadi pusat kembang api, kali ini dipadati warga yang melakukan aksi menyalakan lilin bersama. Pihak kepolisian dari Polresta Yogyakarta berjaga dengan pendekatan humanis, memastikan arus manusia mengalir lancar meskipun kepadatan meningkat tajam menjelang tengah malam.

Di sisi lain kota, Plaza Ambarrukmo menjadi magnet bagi kawula muda dengan festival kuliner dan live music.

Menuju 2026: Doa Bersama di Tengah Kota

Tepat saat jam besar di Gedung BNI menunjukkan pukul 00.00 WIB, tidak ada ledakan kembang api besar di langit. Sebagai gantinya, terdengar bunyi tiupan terompet bambu yang bersahutan dan doa bersama yang dipandu dari pengeras suara di sekitar area Titik Nol. Masyarakat saling berjabat tangan dan berswafoto di bawah lampu-lampu jalan ikonik Jogja, menandai masuknya tahun 2026 dengan penuh harapan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang memantau langsung di lapangan, mengapresiasi ketertiban warga. Ia juga memastikan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) langsung bergerak cepat. Targetnya, sebelum matahari pertama 2026 terbit, kawasan sumbu filosofi sudah kembali bersih dari sampah sisa perayaan.

Perayaan tahun baru 2026 di Yogyakarta membuktikan bahwa kemeriahan tidak selalu harus identik dengan hura-hura. Dalam kesederhanaan dan empati, Jogja tetap mampu menyuguhkan kehangatan yang tak terlupakan bagi siapa saja yang datang. (Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *