Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan Ageng Peringati 36 Tahun Penobatan Sultan HB X

Yogyakarta – Keraton Yogyakarta kembali menggelar upacara adat Labuhan Ageng dalam rangka memperingati Tingalan Dal Penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-36 berdasarkan kalender Jawa. Kegiatan ini berlangsung meriah dan menyedot perhatian ribuan warga serta wisatawan yang memadati sejumlah titik prosesi sejak pagi hari.

Meski secara kalender Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono X genap bertakhta selama 37 tahun pada 7 Maret 2026, peringatan utama tetap dilaksanakan mengacu pada penanggalan Jawa. Rangkaian kegiatan dimulai sejak 27 Rejeb sebagai bentuk penghormatan tradisi Keraton sekaligus doa bersama untuk keselamatan Sultan, Keraton, dan masyarakat Yogyakarta.

Tradisi Delapan Tahunan

Labuhan Ageng merupakan upacara adat yang digelar setiap delapan tahun sekali atau satu windu, tepatnya pada tahun Dal. Berbeda dengan Labuhan Kecil yang rutin diadakan setiap tahun, Labuhan Ageng memiliki skala lebih besar dan melibatkan beberapa lokasi, seperti Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Khayangan.

Kegiatan ini menjadi simbol pelestarian budaya Jawa serta wujud kebersamaan antara Keraton dan masyarakat. Prosesi juga dimaknai sebagai ajakan untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Upacara diawali dengan pemberangkatan ubarampe dari Bangsal Sri Manganti, Keraton Yogyakarta. Sejumlah perlengkapan upacara yang telah dipersiapkan secara khusus dibawa oleh para abdi dalem dengan penuh kehormatan menuju lokasi prosesi.

Menurut salah satu abdi dalem, prosesi ini mengandung pesan filosofis tentang introspeksi diri dan harapan akan kehidupan yang lebih baik ke depan.

Puncak Acara di Parangkusumo

Puncak kegiatan berlangsung di kawasan Pantai Parangkusumo. Setibanya rombongan, acara dilanjutkan dengan doa bersama dan pembacaan selawat. Setelah itu, ubarampe dibawa menuju tepi pantai sebagai bagian dari rangkaian simbolis upacara adat.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Mereka mengikuti prosesi dengan tertib di bawah pengamanan aparat kepolisian dan petugas Keraton.

Penguatan Identitas Budaya

Bagi masyarakat Yogyakarta, Labuhan Ageng bukan sekadar acara seremonial, melainkan bagian penting dari warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi. Kehadiran ribuan pengunjung dari berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi Jawa tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Upacara ini diharapkan semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang konsisten melestarikan nilai-nilai tradisi leluhur. (Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *