Yogyakarta – Berbicara seni rupa Yogyakarta tak bisa dilepaskan dari ArtJOG, perhelatan seni rupa berskala internasional yang kini identik dengan sosok Heri Pemad. Jauh sebelum ArtJOG hadir, Yogyakarta telah memiliki FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) sebagai event seni utama yang digelar rutin di Benteng Vredeburg. Sementara perkembangan seni rupa terkini biasanya dipantau lewat Biennale Jogja.
Perubahan besar terjadi pascagempa Bantul 27 Mei 2006. FKY yang semula akan digelar terpaksa dibatalkan dan berubah menjadi Art for Jogja. Dari momentum inilah nama Heri Pemad semakin dikenal. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan ART Care Indonesia, wadah penggalangan dana kemanusiaan yang hingga kini selalu hadir di setiap ArtJOG lewat penjualan karya mini untuk donasi.
Pada 2008–2009, Heri Pemad melalui HPAM (Heri Pemad Art Management) menggelar Jogja Art Fair (JAF) di Taman Budaya Yogyakarta. Event ini kemudian berganti nama menjadi ArtJOG pada 2010 dan sejak 2016 menetap di Jogja National Museum (JNM). Sejak itu, ArtJOG tumbuh menjadi salah satu pameran seni kontemporer paling berpengaruh di Indonesia, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.
ArtJOG menghadirkan karya seniman lintas daerah dengan konsep pameran yang megah dan atraktif. Kehadiran commissioned work di area depan gedung pameran menjadi ciri khas yang memikat pengunjung. Pameran pun berubah lebih modern dan “instagramable”, menyesuaikan zaman digital.
“Kegilaan” sebagai Kekuatan
Heri Pemad, bernama asli Heriyanto, lahir di Sukoharjo, 12 April 1976. Ia dikenal dengan kredonya: “Yen ora edan, ora waras”—jika tidak gila, maka tidak waras. Baginya, kegilaan adalah sumber kreativitas. Gaya flamboyan dan canda khasnya menyimpan visi besar dalam mengelola seni.
ArtJOG kini menjadi “Hari Raya” seni rupa Yogyakarta. Dampak ekonominya terasa nyata bagi sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, hingga transportasi. Bulan Juni–Juli dipilih sebagai waktu strategis untuk menarik perhatian publik nasional dan internasional.
Manajemen Otodidak
HPAM berdiri sejak 2006 sebagai manajemen seni independen yang fokus membina seniman muda. ArtJOG bukan sekadar pameran, tetapi juga ruang transaksi dan jejaring seni. Pemad dikenal mampu mengorkestrasi kurator, seniman, dan pekerja event dengan pendekatan humanis.
Sebagai seniman, Pemad pernah menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta dan meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Ia memilih keluar dari kampus pada 2000 untuk membuktikan bisa hidup dari seni tanpa ijazah. Perjalanan panjang di ruang alternatif seni membentuk karakter manajemennya yang unik.
Deretan Penghargaan
Beberapa penghargaan yang pernah diraih Heri Pemad antara lain:
-
Visual Arts Award (2010)
-
Anugerah Adhikarya Rupa (2014)
-
Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY (2021)
-
Pelopor Pertunjukan Seni Rupa (2022)
Menarik menantikan ArtJOG 2026 yang akan digelar di Jogja National Museum pada 19 Juni–30 Agustus 2026. Publik pun bertanya-tanya, kejutan apa lagi yang akan lahir dari “kegilaan” Heri Pemad?
Bantul, 21 Januari 2026 Yaksa Agus @yaksapedia
