Bantul – Seni kerap disebut sebagai bahasa jiwa. Namun tanpa pengetahuan dan proses belajar, jiwa yang tumbuh justru bisa kehilangan arah. Berangkat dari pemahaman itu, L’ASRY Akademi Seni Rupa Yogyakarta hadir sebagai ruang belajar seni alternatif yang menekankan proses, bukan hasil instan.
Di tengah anggapan bahwa “menjadi seniman tidak harus sekolah seni”, L’ASRY menawarkan pendekatan berbeda. Kampus seni nonformal ini tidak menjanjikan kesuksesan cepat, popularitas, atau keuntungan finansial instan. Sebaliknya, L’ASRY menempatkan pendidikan seni sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan mental, dan pendalaman gagasan.
L’ASRY berdiri pada 4 Desember 2022 di bawah naungan Museum dan Tanah Liat (MDTL), berlokasi di Dusun Menayu Lor, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Suasananya sederhana dan santai, menyerupai pawiyatan atau sanggar, jauh dari kesan kampus formal.
Didirikan oleh Ugo Untoro, Syahrizal Pahlevi, Joko “Gundul” Sulistiono, Titus Libert, dan Ali Gopal, L’ASRY membawa semangat pendidikan seni yang berakar pada tradisi sekaligus responsif terhadap perkembangan seni kontemporer.
Menurut Ugo Untoro, lembaga pendidikan seni tidak pernah bisa menjamin seseorang menjadi seniman sukses. “Sekolah seni tidak menjamin kesuksesan,” ujarnya. Hal senada pernah disampaikan kurator dan akademisi Suwarno Wisetrotomo, bahwa keberhasilan seniman sangat bergantung pada individu, kerja keras, serta kemampuan menghadapi tantangan profesional.
Memasuki era seni kontemporer yang dipengaruhi teknologi dan media sosial, L’ASRY merancang kurikulum relevan yang diampu oleh akademisi dan seniman aktif. Mahasiswa didorong bereksperimen, mengeksplorasi ide, serta memahami seni sebagai kontribusi sosial, bukan sekadar ekspresi personal.
L’ASRY juga menolak logika tergesa-gesa menjadi seniman. Popularitas di media sosial, tanda “like”, atau pujian instan dinilai bukan ukuran kualitas karya. Dunia seni, menurut Ugo Untoro, menuntut keberanian mengungkap gagasan, rasa, dan pikiran sendiri—bukan meniru selera atau keindahan orang lain.
“Indah dan kuatnya karya seni lahir dari keberanian penciptanya mengeluarkan apa yang ia miliki,” kata Ugo.
Di usianya yang memasuki tahun keempat, L’ASRY telah meluluskan satu angkatan. Para alumninya diberi kebebasan memilih jalan: terjun langsung ke dunia seni, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam teknik dan pengetahuan.
Di tengah hingar-bingar pameran seni, art fair, dan isu harga karya yang fantastis, L’ASRY hadir sebagai pengingat bahwa menjadi seniman adalah proses panjang. Bukan tentang siapa yang paling cepat dikenal, tetapi siapa yang paling siap secara gagasan, mental, dan karakter. (Yaksa A)
