Kue Keranjang Kampung Tukangan Tetap Setia pada Teknik Pengukusan Belasan Jam

Kue Keranjang Legendaris Kampung Tukangan Yogyakarta Bertahan Sejak Pra-Kemerdekaan, Produksi Meningkat Jelang Imlek 2026

Yogyakarta – Di balik riuh rendah kawasan Stasiun Lempuyangan, terdapat sebuah gang sempit di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegalpanggung, yang menyimpan cerita tentang keteguhan menjaga tradisi. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, aroma legit gula merah dan gurihnya adonan ketan menyeruak dari dapur sebuah rumah sederhana yang telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Yogyakarta. Di sinilah, kue keranjang legendaris diproduksi, sebuah kudapan yang tetap setia dengan resep aslinya sejak masa pra-kemerdekaan.

​Kue keranjang atau Nian Gao dari Kampung Tukangan bukan sekadar bisnis kuliner biasa. Ia adalah warisan budaya yang telah melintasi tiga zaman: mulai dari era kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan Indonesia. Keberadaannya menjadikannya salah satu ikon kuliner paling autentik di Yogyakarta, terutama saat menyambut pergantian tahun dalam penanggalan Tionghoa.

Sianywati, sang penerus usaha, menceritakan bahwa tradisi ini diwarisinya langsung dari sang nenek. Hingga kini, ia memilih setia mempertahankan cara-cara lama yang telah diajarkan sejak kecil tanpa sedikit pun mengurangi kualitas bahan.

​“Usaha ini sudah ada sejak zaman nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang saya yang meneruskan, jadi sudah generasi kedua,” ujar Sianywati sambil mengaduk adonan ketan dengan cekatan, Rabu (4/2/2026).

​Produksi Massal Menjelang Imlek 2026

​Memasuki bulan Februari 2026, kesibukan di rumah produksi ini mencapai puncaknya. Jika pada hari-hari biasa suasana cenderung tenang, kini puluhan loyang dan tungku besar bekerja tanpa henti selama 24 jam. Permintaan pasar melonjak drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam sehari, rumah produksi di Tukangan ini mampu mengolah sedikitnya 200 kilogram adonan ketan dan gula.

​Lonjakan permintaan ini tidak hanya datang dari warga lokal Yogyakarta, tetapi juga merambah ke luar kota. Kepercayaan pelanggan yang terjaga selama puluhan tahun menjadi modal utama. Bagi para pelanggan setianya, belum lengkap rasanya merayakan Imlek tanpa kehadiran kue keranjang dari Tukangan yang memiliki karakteristik rasa khas dan tekstur yang konsisten.

​Setia pada Proses Tradisional

​Rahasia di balik bertahannya kue keranjang ini terletak pada proses pembuatannya yang “anti-instan”. Di saat industri besar beralih menggunakan mesin modern dan bahan pengawet, keluarga perajin di Tukangan tetap memilih teknik tradisional. Bahan baku tetap mengandalkan tepung ketan berkualitas tinggi dan gula pilihan yang diolah secara manual.

​Menurut Sianywati, kue keranjang memiliki filosofi mendalam. Bahan utama berupa beras ketan melambangkan keterikatan dan keharmonisan antarkeluarga, sementara rasa manisnya menjadi doa agar kehidupan berjalan penuh keberkahan.

​“Ketan itu lengket, artinya supaya keluarga tetap rukun. Rasanya manis, harapannya hidup juga manis—rezekinya, kariernya, hubungannya,” jelasnya.

​Proses pengukusan adalah tahap yang paling krusial. Adonan harus dikukus selama belasan jam hingga warnanya berubah menjadi cokelat gelap mengkilap secara alami akibat karamelisasi gula. Teknik inilah yang membuat kue keranjang Tukangan mampu bertahan hingga satu tahun secara alami tanpa bahan pengawet kimia.

​Simbol Akulturasi dan Harmoni

​Lebih dari sekadar komoditas dagang, kue keranjang Tukangan adalah simbol hidup dari harmoni sosial di Yogyakarta. Meskipun merupakan tradisi etnis Tionghoa, proses produksinya melibatkan warga sekitar kampung yang mayoritas beretnis Jawa. Interaksi ini menciptakan ruang akulturasi yang manis di tengah jantung kota.

Bentuk kue yang bulat melambangkan persatuan, sementara teksturnya yang lengket bermakna eratnya persaudaraan. Di Tukangan, filosofi itu mewujud nyata dalam bentuk lapangan kerja bagi warga sekitar dan hubungan bertetangga yang rukun tanpa sekat etnis. Aroma manis dari dapur Tukangan menjadi penanda bahwa di tengah modernisasi, tradisi yang dirawat dengan cinta akan selalu memiliki tempat untuk terus bertumbuh. (Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *