Game “Kata Kita”: Cara Menyenangkan Anak Cerebral Palsy Belajar Bicara

Yogyakarta – Keterlambatan berbicara menjadi tantangan terbesar bagi anak-anak Cerebral Palsy (CP). Melihat kondisi itu, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan solusi kreatif berupa game edukatif “Kata Kita”, permainan berbasis Augmented Reality (AR) dan audio sensory yang dirancang untuk membantu latihan bicara anak-anak dengan cara yang menyenangkan.

Game ini merupakan hasil karya tim Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) UGM yang beranggotakan Muhammad Zufar Syaafi’, Muhammad Haidar Syaafi’, Nabila Sabna Haqi, Keisha Tiara Ramadhania, dan Nenden Kalma Syafiyah Afiyatani. Mereka berasal dari lintas disiplin — Teknologi Informasi, Psikologi, hingga Bahasa dan Sastra Indonesia — demi menciptakan media belajar yang interaktif, inklusif, dan mudah diakses.

Belajar Bicara Lewat Petualangan Digital

Melalui Kata Kita, anak-anak diajak berlatih pengucapan kosakata dengan konsep permainan bertingkat. Semakin tinggi level permainan, semakin banyak kata yang harus dilafalkan.

“Game ini memadukan game-based learning dengan teknologi AR dan audio sensory, agar latihan bicara terasa seperti bermain,” ujar Nabila Sabna Haqi, salah satu anggota tim, saat diwawancarai di Yogyakarta, Kamis (6/11).

Setiap level menampilkan petualangan 3D bertema hewan yang muncul secara interaktif melalui AR. Fitur pengenalan suara memberikan umpan balik langsung atas pengucapan anak, sehingga mereka bisa berlatih bersama orang tua dengan lebih menyenangkan.

Didukung AI dan Bisa Dipantau Orang Tua

Tak hanya sebagai permainan, Kata Kita juga dilengkapi platform pemantauan berbasis web. Orang tua atau pendamping bisa melihat perkembangan kemampuan bicara anak secara real-time dan menerima laporan kemajuan yang diolah dengan teknologi Artificial Intelligence (AI).

“Fitur ini membantu orang tua memahami proses belajar anak dan menyesuaikan terapi dengan lebih tepat,” tambah Nabila.

Diuji di Komunitas Cerebral Palsy Jogja

Game ini dikembangkan bersama Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Yogyakarta untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan nyata anak-anak CP. Dalam uji coba awal, hasilnya menunjukkan perubahan positif, terutama bagi anak dengan tingkat speech delay ringan hingga sedang.

“Salah satu anak yang sebelumnya tidak bisa mengucapkan huruf ‘k’ kini sudah bisa melafalkannya dengan benar,” ungkap Nabila.

Melalui Kata Kita, tim UGM berharap anak-anak dengan keterlambatan bicara dapat berlatih secara mandiri dan gembira. “Harapan kami, game ini bisa diterapkan di berbagai komunitas disabilitas dan sekolah inklusi, agar pemerataan akses pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di Indonesia semakin kuat,” tutup Nabila. (Yud)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *