Kulon Progo – Mengawali kalender kerja tahun 2026, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) membuat terobosan melalui program Narasemesta Jasindo: Green School Smart Protection. Program ini digelar di SMK Cipta Insan Mulia, Kulon Progo, Yogyakarta, sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan literasi keuangan, mitigasi risiko, dan kepedulian lingkungan.
Inisiatif ini bukan sekadar seremoni tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Lebih dari itu, Jasindo ingin membangun kesadaran generasi muda bahwa keberlanjutan hidup tidak terlepas dari cara manusia mengelola risiko dan menjaga alam.
Program ini juga menandai pergeseran pendekatan perusahaan asuransi kepada generasi muda. Tidak lagi hanya berbicara soal polis, tetapi menyentuh isu yang lebih fundamental: keberlangsungan hidup dan kelestarian lingkungan.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema, menegaskan bahwa konsep Green School bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang selaras dengan alam.
“Manusia dan alam merupakan dua unsur yang saling terkait dan harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Melalui program ini, Jasindo menanamkan kesadaran sejak dini bahwa risiko—baik lingkungan maupun operasional—merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan yang perlu dikelola secara profesional.
Dukungan nyata yang diberikan Jasindo kepada sekolah meliputi:
-
Manajemen limbah cerdas: Penyediaan tempat sampah terpilah dan komposter komunal
-
Infrastruktur hijau: Pembuatan vertical garden dan penanaman pohon produktif
-
Literasi visual: Pemasangan plank edukasi dan budaya 5R (Rapi, Resik, Ringkas, Rawat, Rajin)
-
Fasilitas kebugaran: Pengadaan sarana olahraga voli bagi siswa
Literasi Asuransi Sesuai Jurusan
Salah satu aspek menarik dari kegiatan ini adalah metode edukasi yang kontekstual. Jasindo menyesuaikan materi literasi asuransi dengan jurusan yang ada di SMK Cipta Insan Mulia.
Untuk siswa jurusan Perhotelan, materi difokuskan pada risiko operasional di industri jasa. Sementara siswa jurusan Animasi dibekali pemahaman tentang perlindungan aset digital serta peralatan kreatif bernilai tinggi.
“Siswa harus memahami bahwa risiko adalah bagian dari aktivitas sehari-hari yang perlu dikelola dengan tepat,” tegas Brellian.
Pendekatan ini dinilai efektif di tengah rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia. Edukasi yang relevan dan aplikatif mampu mengikis stigma bahwa asuransi adalah pengeluaran sia-sia. Sebaliknya, asuransi diposisikan sebagai instrumen penting untuk menjaga keberlanjutan usaha, bahkan sebelum para siswa terjun ke dunia kerja.
Meski terlihat ideal, tantangan terbesar program Green School adalah menjaga keberlanjutannya pasca-seremoni. Banyak program serupa yang berhenti hanya sebagai simbol tanpa perubahan perilaku jangka panjang.
Namun Jasindo berupaya menutup celah tersebut dengan mengintegrasikan nilai GRC (Governance, Risk, and Compliance) ke dalam materi edukasi. Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi subjek yang aktif mengelola risiko lingkungan di sekolahnya.
Secara strategis, langkah ini juga memperkuat posisi Jasindo sebagai anggota Holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga keberlanjutan bisnis (sustainable business).
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu ESG (Environmental, Social, Governance) pada 2026, program ini menjadi langkah taktis memperkuat citra sosial perusahaan di mata publik dan pemegang saham.
Sebagai perusahaan dengan pengalaman lebih dari 50 tahun, Jasindo memiliki rekam jejak panjang dalam menangani berbagai risiko skala besar. Kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia (Seri A dwiwarna) dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) menjadi fondasi kepercayaan publik.
Fokus Jasindo pada 2026 tetap konsisten, yakni:
-
Pertumbuhan yang profitable di sektor strategis
-
Pelayanan prima melalui penguatan unit bisnis pendukung
-
Implementasi budaya AKHLAK dalam tata kelola perusahaan
Program Narasemesta 2026 di Kulon Progo menjadi contoh bagaimana industri keuangan dapat berkontribusi dalam pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan. Jika berhasil direplikasi di sekolah lain, Jasindo tidak hanya menjual polis, tetapi turut membentuk generasi yang melek risiko dan peduli ekologi.
Sebuah investasi jangka panjang yang mungkin belum terlihat dampaknya dalam laporan keuangan kuartalan, tetapi akan terasa pada ketahanan ekonomi dan lingkungan Indonesia di masa depan. (Yud)
