Menjamurnya Bisnis Es Teh di Indonesia: Tren Sesaat atau Jangka Panjang?

Yogyakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis es teh manis kembali mencuri perhatian di tengah industri minuman yang semakin kompetitif.

Gerai-gerai es teh, baik skala kaki lima maupun waralaba modern, tumbuh bak jamur di berbagai kota. Kemudahan permodalan, inovasi produk, hingga besarnya pasar membuat bisnis ini dianggap sebagai salah satu peluang usaha paling stabil saat ini.

Didorong Budaya dan Harga Terjangkau

Teh merupakan minuman yang akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia. Faktor familiaritas inilah yang membuat es teh tidak membutuhkan edukasi pasar. Hampir semua konsumen dari anak-anak hingga orang tua sudah mengenal dan menyukai es teh sebagai minuman pendamping makanan.
Di sisi lain, harga jual yang murah turut memperkuat permintaan. Saat minuman kekinian seperti kopi susu atau boba dijual dengan harga Rp15.000 hingga Rp30.000, es teh manis tetap bertahan di kisaran Rp3.000 hingga Rp7.000 per gelas. Harga yang ramah di kantong membuat bisnis ini tetap diminati bahkan di tengah tekanan ekonomi.

Bisnis yang Mudah Ditiru dan Cepat Balik Modal

Proses produksi es teh relatif sederhana. Bahan bakunya mudah didapat, murah, dan tidak membutuhkan keahlian khusus. Hal ini membuat siapa pun bisa memulai bisnis dengan modal kecil.
Model kemitraan atau franchise turut berperan besar dalam mendorong pertumbuhan bisnis ini.

Banyak merek menghadirkan paket usaha lengkap dengan harga terjangkau, mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta. Dengan keuntungan per gelas yang cukup besar, beberapa pelaku usaha mengklaim bisa balik modal hanya dalam 3 hingga 6 bulan, terutama jika lokasi gerai strategis dan ramai pengunjung.

Estimasi Modal Awal

Usaha Mandiri (kaki lima): Rp1,2 juta – Rp2 juta

Non-Franchise (gerobak + peralatan lengkap): sekitar Rp5 juta

Franchise: Rp3 juta – di atas Rp10 juta, tergantung merek dan fasilitas

Gen Z Jadi Pendorong Utama Populeritas Es Teh Kekinian

Target pasarnya pun sangat luas, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga pelanggan di kawasan kuliner.

Generasi Z, yang identik dengan budaya visual dan konsumtif terhadap tren, memainkan peran penting dalam maraknya es teh.

Kemasan estetik, varian rasa kreatif, hingga branding yang kuat membuat produk ini mudah viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Selain itu, harga es teh yang affordable membuatnya lebih menarik dibandingkan minuman kekinian lainnya. Gen Z juga dekat dengan budaya minum es teh sebagai pelengkap makan sehari-hari, terutama di warung atau kaki lima.

Apakah Bisnis Ini Masih Menjanjikan?

Melihat karakteristiknya, es teh bukan sekadar tren musiman, tetapi komoditas yang telah melekat dalam budaya kuliner Indonesia. Selama cuaca tetap panas dan pola konsumsi masyarakat tidak berubah, permintaan es teh diprediksi akan tetap stabil.
Namun, pasar yang semakin padat membuat persaingan semakin ketat. Pelaku usaha dituntut untuk memahami diferensiasi, entah dari segi branding, varian rasa, kualitas bahan baku, maupun pendekatan pemasaran. Inovasi menuju produk lebih sehat atau penggunaan kemasan ramah lingkungan digadang-gadang menjadi daya tarik baru di masa depan.

Ilustrasi keuntungan 

Minimal untuk untung bulanan (Rp3 juta) ±30 cup/hari

  1. Balik modal 3 bulan 16 cup/hari
  2. Balik modal 2 bulan 24 cup/hari
  3. Balik modal 1 bulan 48 cup/hari

Untuk standar bisnis es teh di Indonesia:

  • 30–50 cup per hari = Aman, sudah masuk untung.
  • 70–120 cup per hari = Ramai, ROI cepat.
    Tantangan: Pasar Jenuh dan Perang Harga

Meski peluangnya besar, tantangan juga tidak sedikit. Banyak gerai bersaing ketat dengan menurunkan harga, yang berpotensi menekan margin keuntungan. Di beberapa kota, kejenuhan pasar mulai terlihat dengan banyaknya pemain baru yang tidak bertahan lama karena kurang inovatif.

Bisnis es teh memiliki fondasi kuat sebagai usaha dengan risiko kecil, pasar luas, dan biaya produksi rendah. Meski gelombang pembukaan gerai baru mungkin akan mereda, keberadaan es teh sebagai minuman favorit masyarakat diprediksi akan bertahan lama. Masa depan bisnis ini bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk terus berinovasi dan menawarkan pengalaman minum yang berbeda dari kompetitor. (Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *