Menyesap Autentisitas Jogja di Pasar Ngasem: Dari Apem Jawa hingga Lopis

Yogyakarta – Jika Malioboro adalah wajah modern Yogyakarta, maka Pasar Ngasem adalah jantung tradisinya. Terletak di kawasan Beteng Keraton, tepatnya di samping situs bersejarah Taman Sari, Pasar Ngasem kini bertransformasi menjadi zona kuliner legendaris yang memanjakan lidah wisatawan maupun warga lokal.

Bukan sekadar tempat transaksi khas pasar tradisional, Pasar Ngasem telah lama dikenal sebagai “surga tersembunyi” bagi para pemburu kudapan autentik. Suasana pasar yang bersih dengan arsitektur bergaya kolonial-jawa menjadikannya tempat favorit untuk menikmati sarapan khas Jogja sembari menghirup udara pagi kota budaya.

Ikon Kuliner: Primadona di Balik Tungku Api

Ada beberapa kuliner yang menjadi identitas tak terpisahkan dari Pasar Ngasem. Di antaranya telah menjadi ikon yang wajib dicicipi:
Apem Jawa (Apem Beras): Inilah primadona utama. Dimasak di atas tungku tanah liat dengan kayu bakar, aroma harum adonan beras dan kelapa ini selalu memicu antrean panjang. Teksturnya yang empuk dan rasa manis yang pas membuatnya menjadi buruan utama.
Lopis dan Cenil Mbah Rebi: Kudapan manis berbahan ketan yang disiram juruh (kinca gula jawa) dan taburan parutan kelapa, memberikan sensasi tradisional yang tak lekang oleh zaman.
Sego Berkat: Nasi bungkus daun jati berisi bihun, oseng tempe, dan daging ini membawa nuansa pedesaan yang kental.
Jamu Gendong: Untuk menyegarkan badan, tersedia berbagai jenis jamu mulai dari Kunir Asem hingga Beras Kencur yang masih diperas secara manual.

Jauh dari Jakarta demi Sepiring Kenangan

Di sela keriuhan pasar, tampak seorang pria paruh baya tengah asyik menikmati Apem hangat. Ia adalah Hendra (42), seorang karyawan swasta asal Jakarta yang sengaja menyempatkan waktu di sela kunjungan kerjanya untuk menyambangi Ngasem.

Bagi Hendra, Pasar Ngasem bukan sekadar tempat makan, melainkan mesin waktu.

“Saya kalau ke Jogja, tujuan utamanya bukan ke mal, tapi ke Ngasem. Di Jakarta hampir mustahil menemukan rasa apem yang dipanggang dengan tungku seperti ini. Rasanya ada smoky dan autentiknya,” ujar Hendra.

Hendra bercerita bahwa kegemarannya pada kuliner Ngasem bermula dari masa kuliahnya dulu.

“Dulu saya sering ke sini waktu mahasiswa. Pasar Ngasem dulu dikenal sebagai Pasar Burung retapi juga banyak yang jual malanan di sekirarnya. Sekarang meski sudah tinggal di Jakarta, setiap ke Jogja saya harus ke sini. Selain murah, atmosfer pasarnya itu yang bikin tenang. Orang-orangnya ramah, ngobrol pakai bahasa Jawa halus, itu yang mahal buat orang Jakarta seperti saya,” tambahnya sembari tersenyum.

Tips Mengunjungi Pasar Ngasem

Bagi Anda yang ingin mencicipi kuliner di sini, disarankan untuk datang sejak pagi buta, yakni sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Pada jam tersebut, pilihan kuliner masih lengkap dan udara belum terlalu terik.

Pasar Ngasem membuktikan bahwa di tengah gempuran kafe kekinian, cita rasa tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati para penikmatnya. Di sini, setiap suapan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal melestarikan budaya yang terus berdenyut di balik tembok-tembok keraton. (Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *