Minggu sore itu, Yogyakarta diselimuti ketenangan yang magis. Makna khotbah Romo tentang tiga Jalan Kemuridan dan keteduhan dari gereja masih membekas erat di hati, menciptakan harmoni batin yang sulit dilukiskan. Saya melangkah masuk ke rumah sekitar jam tujuh malam dengan perut yang sudah keroncongan, namun demgan hati yang tenang. Di tangan, saya menenteng bungkusan gudeg telur langganan dari Terminal Condongcatur—sebuah ritual penutup minggu yang saya bayangkan akan dinikmati dengan khidmat di meja makan bersama keluarga.
Namun, ketenangan itu seketika pecah oleh getar ponsel di saku. Mas Arjo Kluruk menelepon. “Bung, jangan makan dulu! Kita ke Gudeg langganan kita….Yu Mrengut sekarang. Tak jemput!” suaranya menggelegar, sebuah titah yang tak mengenal ruang negosiasi. Benar saja, lima menit kemudian, mobilnya sudah terparkir gagah di depan pagar. Istri saya hanya bisa mrengut melihat suaminya “diculik” sesaat setelah menginjakkan kaki di rumah. Tapi itulah Mas Arjo, sosok yang kehadirannya selalu membawa pusaran energi yang sulit ditolak.
Sesampainya di Gudeg Yu Mrengut yang tak pernah tersenyum itu aroma gurih nangka muda yang dimasak berjam-jam dan gurihnya areh langsung menyambut indra penciuman. Di depan kami tersaji sepiring nasi gudeg dengan telur bulat yang cokelat sempurna, ayam suwir, dan krecek yang wungkul-wungkul—utuh, kenyal, dan menggoda. Sambil menyendok krecek yang pedasnya meresap itu, saya mencoba membuka percakapan yang sedari tadi mengganjal di kepala, sebuah keresahan tentang arah ekonomi kita.
”Mas, kenapa ya industrialisasi di Indonesia itu rasanya hambar? Kenapa tidak dibarengi dengan kekuatan manufaktur yang kokoh?” tanya saya di sela kunyahan.
Mas Arjo meletakkan sendoknya, menatap saya dengan tatapan yang tajam namun teduh, seolah sedang menimbang beban sejarah di balik pertanyaan itu. “Begini Bung… soalnya orang Indonesia itu sukanya cepat dan instan. Saya tidak menjelek-jelekkan bangsa saya sendiri, tapi kalau diajak berjuang dari nol, itu angel banget.”
Ia mengelap bibirnya dengan tisu, lalu bercerita bagaimana ia merintis usaha ayam potong dari titik nadir hingga akhirnya ia bisa mencicipi dunia makelaran senjata dan alat perang. Semuanya, katanya, membutuhkan ketekunan yang membosankan. Mas Arjo menghela napas panjang, memberikan analogi yang begitu membumi malam itu.
”Manufaktur itu jantung ketahanan bangsa, Bung. Tapi ia butuh ‘napas panjang’. Situ harus investasi di mesin, riset, dan manusia selama bertahun-tahun sebelum melihat hasilnya. Masalahnya, mentalitas kita lebih banyak mentalitas pedagang, bukan produsen. Kita lebih senang beli barang jadi dari luar, lalu dijual lagi dengan untung cepat. Itu namanya shortcut—jalan pintas yang mematikan masa depan.”
Ia menunjuk piring gudeg di depan kami. “Ibarat bikin gudeg ini. Manufaktur itu proses menggudeg-nya. Perlu waktu seharian, api kecil, dan kesabaran supaya bumbunya meresap sampai ke serat terdalam. Tapi sekarang, orang maunya pakai bumbu instan dan panci presto. Cepat, tapi rasanya tidak punya ‘jiwa’. Industri kita pun begitu; kita bangga punya pabrik, tapi sebenarnya cuma jadi tempat perakitan baut. Teknologi intinya punya orang luar, cuma pinjam tenaga kerja murah.”
Penjelasan Mas Arjo kian dalam saat ia menyentuh isu kedaulatan. Dalam dunia alat perang yang ia geluti, ego sektoral dan godaan komisi cepat lewat impor seringkali menjegal potensi lokal. Padahal, jika kita mau sabar membangun dari hulu ke hilir—dari baja hingga elektronik militernya—Indonesia tidak akan bisa didikte oleh siapa pun.
”Kita ini bangsa yang besar, tapi sering merasa kecil karena tidak mau berkeringat di tahap awal,” pungkasnya. “Kita ingin gedung pencakar langit, tapi malas menggali fondasi yang dalam. Kalau kita tidak mulai menghargai proses ‘dari nol’, ya selamanya kita cuma jadi penonton di rumah sendiri.”
Malam makin larut di Gudeg Yu Mrengut. Penjelasan Mas Arjo malam itu terasa jauh lebih pedas dan meresap daripada krecek yang saya makan. Saya pulang dengan perut kenyang, namun pikiran saya penuh dengan pekerjaan rumah yang berat. Minggu malam itu ditutup dengan sebuah refleksi: bahwa kedaulatan sebuah bangsa ternyata bermula dari kesabaran untuk mengolah “api kecil” di dapur industrinya sendiri, sebagaimana filosofi sepiring gudeg yang meresap rasa. (*)
