Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan penataan tata ruang humanis pada revitalisasi Pasar Terban yang berada di jalan C. Simanjuntak, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Program revitalisasi pasar tradisional ini dalam rangka mendorong optimalisasi tempat transaksi para pedagang dan pembeli dari penguasaan kemasan, teknologi, serta memastikan prosedur penyembelihan Rumah Potong Ayam (RPA) betul-betul halal, sehat dan higienis.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan Pasar Terban bukan sekadar untuk transaksi ekonomi tetapi juga menjadi denyut kehidupan masyarakat, khususnya sebagai sentra perdagangan.
“Salah satu hal spesial yang ada di dalam pasar ini adalah adanya RPA. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kehalalan pemotongan ayam tersebut,” katanya Senin (12/1).
Menurut Hasto, lokasi Pasar Terban yang dekat dengan UGM akan mempermudah kolaborasi dalam penggunaan pasar sebagai tempat pengembangan kompleksitas bisnis berbasis kerakyatan sekaligus menjadi laboratorium mahasiswa atau dosen.
“Kita harapkan Pasar Terban dapat menjadi material teaching atau material research yang bisa dikembangkan bersama UGM,” ujarnya.
Pada hari operasional Pasar Terban, Sabtu, (10/1), UGM dan Pemkot Yogyakarta mengadakan kegiatan kirab budaya dan pagelaran wayang purwa. Kirab budaya diikuti oleh kurang lebih 300 orang yang meliputi beberapa sekolah di sekitar Terban, warga, dan PKL yang akan menempati pasar. Sementara itu, dalang dalam pagelaran wayang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya tahun 2025, Ki Harlindar Mukti Prakoso.
Dalam kegiatan pertunjukkan wayang, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito, menyampaikan bahwa kunci utama yang harus dimiliki masyarakat di tengah krisis ekonomi dengan kolaborasi bersama memecahkan masalah tersebut. Pasar Terban menjadi salah satu bukti mulainya kolaborasi kerja sama berbagai pihak dari masyarakat, pemerintah daerah, serta institusi.
“Semoga pemerintah kota terus memfasilitasi ini semua dan saya yakin UGM terbuka untuk bisa berkolaborasi,” katanya.
Arie juga mengajak masyarakat menjadikan pasar bukan hanya tempat untuk mencari rezeki tetapi juga tempat berinteraksi kebudayaan dan arena demokrasi. Pada saat itulah masyarakat akan berkaca dengan menjaga kebersihan, kerukunan antar pedagang hingga memiliki kesejahteraan dan keberdayaan yang sama.
Pertunjukkan wayang menjadi simbolik kegiatan ekonomi yang menjadi bagian praktik kebudayaan.
“Saya berpesan agar Pasar Terban dikelola dengan baik, jangan sampai ada kekacauan hingga praktik diskriminasi,” tambahnya.
Mantri Pamong Praja Kemantren Gondokusuman, Guritno, A.P., M.I.P., mengharapkan dengan pendampingan UGM, segenap sivitas akademik dan para mahasiswa dapat memberikan pengetahuan bagi para pedagang pasar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk menghidupkan Pasar Terban yang lebih modern.
“Kehadiran Pasar Terban yang baru ini menjadikan wilayah sekitar UGM dan Terban semakin tertib sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat,” harapnya.
Seperti diketahui, revitalisasi Pasar Terban telah dimulai dari 2024 dan selesai pada akhir 2025 serta telah kembali beroperasi secara penuh pada 10 Januari 2026. Revitalisasi mencakup peningkatan infrastruktur, fasilitas keamanan dan kenyamanan dengan pengawasan cctv, hingga sistem drainase dan sanitasi yang lebih baik. Peningkatan ini dilakukan untuk mendukung keamanan dan kenyamanan pedagang maupun pengunjung pasar. (Yud)
