Wajah Ganda Pariwisata Yogyakarta: Berkah Ekonomi atau Malapetaka?

Oleh : Yudah Prakoso

Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 menempatkan Yogyakarta kembali pada singgasananya sebagai destinasi primadona di Pulau Jawa. Gelombang wisatawan yang memadati setiap sudut kota mencerminkan dua sisi koin yang kontras: sebuah ledakan pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, sekaligus alarm peringatan akan ketimpangan yang kian menganga.

Di balik gemerlap perayaan di Titik Nol Kilometer, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah fenomena ini merupakan berkah yang berkelanjutan atau justru malapetaka bagi ekosistem lokal?

Magnet Wisata: Antara yang Berwujud dan yang Tersirat

Daya tarik Yogyakarta pada musim liburan kemarin bersumber dari perpaduan harmonis antara aset tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud). Secara fisik, wajah baru kawasan Malioboro yang semakin ramah pejalan kaki, revitalisasi Benteng Baluwarti, hingga kemegahan Bandara YIA di Kulon Progo menjadi infrastruktur pendukung yang kuat. Estetika tata kota yang memadukan modernitas dan warisan kolonial memberikan kepuasan visual bagi wisatawan yang mencari pengalaman berfoto atau sekadar menikmati keindahan arsitektur.

Namun, kekuatan sejati Yogyakarta terletak pada hal yang intangible. Atmosfer “guyub”, keramahtamahan warga, serta narasi sejarah yang hidup di setiap gang sempit adalah ruh yang menarik orang untuk kembali.
Wisatawan tidak hanya membeli tiket masuk museum; mereka membeli “perasaan” pulang ke rumah. Perpaduan antara fisik kota yang cantik dan nilai filosofis yang kental inilah yang membuat Yogyakarta sulit tergantikan oleh destinasi buatan mana pun di Indonesia.

Dampak Positif: Mesin Ekonomi yang Menderu

Secara kuantitatif, Nataru 2025-2026 adalah momentum emas bagi perputaran ekonomi lokal. Berdasarkan data awal, okupansi hotel berbintang di ring satu kota mencapai hampir 100%, sementara homestay di pinggiran kota ikut kecipratan untung dengan kenaikan pesanan hingga 80%. Sektor UMKM, mulai dari bakpia, kerajinan, hingga jasa transportasi online, mengalami lonjakan omzet yang sangat signifikan.

Uang yang dibawa oleh jutaan wisatawan ini mengalir langsung ke kantong-kantong rakyat. Pedagang kaki lima di sepanjang jalanan utama melaporkan pendapatan harian yang melampaui rata-rata bulanan mereka.

Dalam konteks makro, lonjakan ini menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang sempat melambat di kuartal sebelumnya. Pariwisata terbukti tetap menjadi tulang punggung yang tangguh bagi kesejahteraan masyarakat Yogyakarta.
Ironi Distribusi:

Penumpukan di Jantung, Kekosongan di Lambung

Namun, di balik angka-angka ekonomi yang mengkilap, terdapat masalah kronis yang belum terpecahkan: ketimpangan distribusi kunjungan. Penumpukan massa masih terfokus secara ekstrem di “Segitiga Emas” (Tugu, Malioboro, Titik 0 Km). Hal ini menciptakan paradoks ruang yang menyesakkan.

Sementara pusat kota berjuang melawan overtourism yang menyebabkan kemacetan total, banyak destinasi di wilayah penyangga seperti desa wisata di pelosok Sleman atau kawasan perbukitan di Kulon Progo justru belum tersentuh secara optimal.

Permasalahannya klasik: aksesibilitas transportasi publik yang belum menjangkau seluruh pelosok dan kurangnya promosi terintegrasi yang mampu memecah konsentrasi massa.

Akibatnya, wisatawan terjebak pada destinasi yang itu-itu saja, memperparah kerusakan fasilitas umum dan menurunkan kualitas pengalaman berwisata itu sendiri.

Berkah atau Malapetaka?

Menilai peristiwa Nataru kemarin sebagai berkah atau malapetaka sangat bergantung pada sudut pandang mana yang kita ambil. Bagi pelaku industri besar dan pedagang, ini adalah berkah luar biasa. Namun, bagi warga lokal yang tinggal di pusat kota, fenomena ini mulai bergeser menjadi malapetaka sosial.

Kemacetan yang mengunci mobilitas warga untuk bekerja, polusi suara hingga larut malam, hingga lonjakan harga kebutuhan pokok akibat tingginya permintaan wisatawan, menciptakan ketegangan sosial yang tersembunyi.

Jika pariwisata hanya dipandang sebagai mesin pengeruk uang tanpa memedulikan daya dukung lingkungan dan kenyamanan penduduk asli, maka Yogyakarta sedang berjalan menuju “bunuh diri pariwisata” di mana kota ini kehilangan jiwanya dan hanya menjadi dekorasi bagi industri.

Kesiapan Pemerintah dan Pelaku Pariwisata

Harus diakui, Pemerintah Daerah DIY dan para pelaku pariwisata telah menunjukkan kesiapan yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Implementasi teknologi pengatur lalu lintas pintar (ITS) dan penyediaan kantong parkir baru di wilayah pinggiran patut diapresiasi. Namun, sinkronisasi antarwilayah kabupaten (Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo) masih terasa berjalan sendiri-sendiri.

Di sisi pelaku usaha, masih ditemukan praktik-praktik kurang terpuji seperti “nuthuk” harga atau tarif parkir yang tidak masuk akal di kantong-kantong liar. Hal ini menunjukkan bahwa literasi pariwisata berkelanjutan belum merata hingga ke level akar rumput. Kesiapan fisik sudah ada, namun kesiapan mentalitas pelayanan jangka panjang masih perlu dipupuk.

Jalan Keluar: Menuju Pariwisata Berkeadilan

Agar periode Nataru di masa mendatang tidak lagi menjadi beban yang memicu konflik ruang, diperlukan beberapa langkah strategis yang konkret:
– Redistribusi Destinasi Berbasis Transportasi: Pemerintah harus menyediakan shuttle bus gratis atau murah yang menghubungkan Malioboro langsung ke desa-desa wisata di pinggiran. Dengan akses yang mudah, wisatawan akan dengan sendirinya menyebar.
– Digitalisasi Manajemen Kerumunan: Pengembangan aplikasi real-time yang memberikan notifikasi ke ponsel wisatawan saat sebuah area sudah mencapai batas kapasitas maksimal, sekaligus memberikan saran destinasi alternatif yang masih sepi.
– Regulasi Ketat dan Sanksi: Pengawasan harga harus dilakukan dengan tindakan tegas (pencabutan izin) bagi mereka yang merusak citra Jogja dengan harga selangit.
– Pariwisata Berbasis Resiliensi Warga: Melibatkan warga lokal bukan hanya sebagai buruh pariwisata, melainkan sebagai pengelola. Insentif pajak bagi usaha yang mempekerjakan warga lokal di sekitar destinasi dapat membantu mengurangi ketimpangan ekonomi.

Yogyakarta adalah sebuah permata yang harus dirawat dengan kebijaksanaan, bukan hanya dengan ambisi profit. Pertumbuhan pariwisata yang sehat adalah pertumbuhan yang tidak meninggalkan warga lokal dalam kemacetan dan ketidakberdayaan ekonomi. Nataru 2025-2026 harus menjadi pelajaran berharga: bahwa suksesnya pariwisata tidak diukur dari seberapa penuh jalanan kita, melainkan dari seberapa adil manfaatnya tersebar hingga ke pelosok desa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *